Rabu, 25 Mei 2011

Cerpen - BIRTHDAY MYSTERY

Sebuah pertanda atau hanya kebetulan belaka?
CERPEN Yudistira

KUKENDARAI motor dengan kecepatan tinggi. Pikiranku melayang entah kemana. Bagai angin yang tak henti berhembus. Angin malam bertubi tubi menerpa seluruh tubuhku. Seakan tubuhku terasa ringan. Mungkin tak ada hal penting yang kupikirkan saat ini. Tak ada penyesalan dan harapan. Aku tetap mengikuti jalur ini sampai buntu. Serasa tak tahu kemana arah dan tujuan. Kubiarkan naluri yang membawa tubuhku.


Sambil memperhatikan jalan, aku sesekali menengok kaca spion. Terlihat dari pantulannya, tak ada seseorang yang mengikuti di belakangku. Ah, atau karena ini beranjak larut malam. Kulirik arlojiku, tertera jam 11 malam. Malam semakin pekat. Suhu semakin dingin. Keramaian berubah perlahan lahan menjadi kesunyian.

Mataku yang sayu perlahan mulai menutup. Kantuk dan lelah mulai membiusku menuju alam mimpi. Tersadar aku masih diatas kendaraan roda dua ini dengan kecepatan yang lumayan. Seakan kesadaran ini  berusaha membangunkanku “Hei, bangun!!”

Sialnya, motorku mendadak oleng! Keseimbangan mulai tak beraturan. Pikiranku kembali berteriak, “Jangan mati sekarang! Jangan di tempat seperti ini!”

Kuinjak rem dengan kaki kananku dan perlahan lahan berhenti.  Adrenalin berpacu kencang tadi. Aku tak mau hilang nyawa sia sia. Aku masih ingin Hidup lebih lama.

“Huuft.. Hampir mampus gue!” kesalku pada diri sendiri.

Kulihat kiri dan kanan. Hanya remang remang yang ada. Semua toko sudah tutup. Kendaraan yang lewat hanya sesekali saja. Jalan ini memang bukan jalan yang biasa kulalui. Aku masih terbilang cukup baru menghuni kota kecil ini. Rute menunjukan bahwa diriku semakin jauh dari pusat kota. Semakin jauh dari keramaian, semakin dekat dengan kesunyian.

Lalu, kunaikan kecepatannya sedikit demi sedikit, masih dalam kecepatan yang standar. Kutengok kiri dan kanan sambil berkendara. Mulai kuhitung berapa pertokoan yang masih buka sampai larut malam. Ternyata bisa dihitung jari. Sedikit sekali. Namun ada satu toko yang menyita perhatianku. Masih ada toko roti yang berjualan sampai selarut ini. Mungkin tak ada salahnya mampir sejenak, karena perutku belum kuisi sejak tadi siang. Beberapa roti atau kue pun cukup mengisi perutku yang merana.

Aku pun melangkah mendekati toko roti itu. Di dalamnya banyak pajangan dan sample macam kue dan roti yang lezat. Ya, cukup menggugah selera. Sebenarnya aku juga ingin mencicipi semuanya satu persatu, tapi apa daya uangku hanya tinggal 50 ribu. Inilah derita ekonomi saat akhir bulan. Tinggal beberapa hari lagi, dompetku akan tebal kembali usai datangnya gajian. Hore!

Sambil melihat lihat segala macam roti, aku juga memperhatikan masih ada dua karyawan yang menjaga toko. Yang sedang beres beres mungkin usianya terbilang muda. Masih sebaya denganku kelihatannya. Satunya lagi sudah berumur 40-an, dia memakai nametag yang bertuliskan “Herman Iskandar”. Terlihat dari kerutan di bagian lipatan matanya. Sepertinya dia sudah senior berada disini. Mungkin juga dia sang pemilik toko roti ini.

“Pak, rotinya masih fresh gak?” tanyaku pada pak Herman, mungkin hanya sekedar basa basi.

“Iya dek. Baru tadi siang diangkat.”

“Ooh,” kataku sambil melihat lihat kemasannya dengan gambar yang menarik.

“Dek, kok baru mampir jam segini? Abis lembur ya?”

“Iya pak. Saya kerja sambilan sambil ngisi liburan kuliah. Cuman dapet kerjaannya di pusat kota.”

“Oh gitu ya. Kenapa gak kerja disini aja dek? Bapak masih kurang karyawan nih. Ngomong ngomong, adek kerjanya jadi apa?”

“Magang jadi ilustrator majalah pak, dikasih tau sama kenalan SMA.”

“Oh, gitu ya dek.”

“Emang yang kerja cuman dua orang aja ya pak? Ya maaf juga, saya gak punya bakat bikin roti atau cake.”

“Sebenarnya ada lima orang. Hanya saja sekarang tinggal tiga orang yang bertahan. Yang satunya lagi pulang kampung dan yang satunya nemenin anaknya di rumah sakit. Oh, kalo masalah buat rotinya saya yang urus. Masih kurang orang dibagian pemasaran ,dek. Itu maksud bapak,” terlihat dari gaya bicaranya yang lugas dan rinci.

“Hmm..”

“Oiya, mau beli berapa?  Diborong ya!” ujar si Pak Herman dengan wajah yang cerah.

“Mungkin cuman beli dua roti aja pak. Duit saya juga lagi seret. Jadi gak bisa borong semua. Hehe”

“Jujur banget kamu dek. Sini saya liat jenis roti yang mau adek beli.”

“Sip, ini pak.” sambil menjulurkan tangan kananku yang memegang dua roti sekaligus.

Selagi bapak itu mengecek harga. Tiba tiba ada sms yang masuk ke handphone-ku. Kulihat isi pesannya datang dari kepala editor, ia bilang  “Jangan lupa buat gambar karikatur untuk kolom Profil Terkini dan juga buat draft kasar untuk Komik Unyu Unyu. Deadline jam 12 besok siang.”

Seketika aku mengernyitkan dahiku sambil mengusap rambut. Padahal baru tadi selesai membuat sketsa tentang cover Majalah untuk bulan depan. Eh, sudah datang kerjaan baru. Aku butuh inspirasi! Inspirasi tak akan datang dikala lelah!

“Dek, kok mukanya jadi kusem gitu? Ada masalah ya?” tanya antusias si bapak pemilik toko.

“Gak papa kog, pak. Cuman nambah kerjaan baru lagi  dari atasan.”

“Semangat ya! Kamu tuh masih muda. Syukur banyak kerjaan. Biar nambah gaji juga. Iya khan? Nih, totalnya 20ribu.” kata katanya membiusku untuk lebih semangat untuk esok.

“Makasih pak atas nasehatnya,” sambil memberi uangku padanya.

“Oiya, sebagai rasa terima kasih bapak ke kamu yang udah mampir ke toko bapak larut malam ini, saya kasih satu box cake Black Forest.  Atas kegigihan kamu sebagai jiwa muda, kamu layak mendapatkannya,” sambil mengeluarkan sekotak cake blackforest lezat dengan toping yang menggugah selera.

“Woah!! Gak perlu pak! Segini aja udah cukup kog!”

“Udahlah dek, gak usah sungkan - sungkan. Terima aja ya, bapak ikhlas kog.”

“Ma.. Makasiih ba..nyak ya pak” aku pun mengambil cake itu dengan gemetaran.

Baru kali ini ada yang membalas hasil jerih payahku. Aku tak tau harus berkata apa. Mungkin ini salah satu keridhoan ilahi. Mungkin juga ini sebuah pertanda bahwa aku harus banyak bersyukur.
Aku pun melangkah pergi meninggalkan toko roti itu. Dengan rasa senang yang menggebu dalam dada serta bingung yang tak terjawab. Lalu, siapa yang akan menghabiskan cake ini?

Saat itu juga aku ingat ulang tahunku yang ke 20. Kulihat display pada handphoneku, tertera tanggal hari ini. Ya, hari esok  tepat tanggal ulang tahunku! Dalam pikiranku masih mengira ngira. Mungkin ini sebuah pertanda atau hanya kebetulan belaka?

Bandung, 25.05.11

3 komentar:

  1. like this dis cerpennya !
    gw suka!
    gw kira itu tuh ceritanya bakal horror gmna gt
    entah si kue black forestnya pake saus darah atau apa gt
    eh taunya kejutan di hari ulang tahun yg ga disangka2
    wlopun ga bernilai banyak , tp sebuah kejutan kecil itu akan terasa berkesan banget!
    bikin lg dong dis !
    gw suka cerpennya!!

    BalasHapus
  2. deskripsi yang bagus dan dialog dinamis, bikin cerpen ini tidak monoton. teruskan. dan kalo boleh koreksi. istilah mukjizat identik dengan nabi/ rasul. kalau manusia biasa biasanya menyebut anugrah. tapi pemakaian kata mukjizat ini lumrah digunakan oleh orang yg beragama kristen. kalo muslim, rasanya riskan menggunakan kata mukjizat. heheh

    BalasHapus
  3. @yudha
    Sip, ntar ane buat kelanjutannya ya.

    @kang wana
    Diralat dulu ya.
    Makasih kang atas kritiknya :D

    BalasHapus