![]() |
| Kenangan itu kembali muncul, dan aku tak bisa melupakannya |
CERPEN Yudistira
SUASANA diluar sudah gelap, kereta belum kunjung melaju jua. Kulihat arlojiku, menunjukan jam sembilan malam. Bangku bangku di dalam gerbong yang kududuki mulai terisi. Berbondong bondong orang tampak bingung mencari nomer tempat duduk masing masing. Beraneka macam latar belakang penampilan dan rupa berdatangan dengan membawa tas dan koper. Diantara mereka juga tak sedikit yang repot repot menenteng kardus dan kresek yang berisi oleh oleh dan pernak pernik khas Jogjakarta dan Solo.
Sambil menunggu jalannya kereta, aku menyeknyamai keadaan di dalam gerbong. Ya, sejujurnya aku belum pernah sama sekali menaiki kereta. Bahkan ada teman yang menertawaiku ketika menceritakan hal ini. Dia bilang aku katro. Aku sih tak terlalu mengusik hal tersebut. Maklum saja, kampung halamanku bukan di kota ini yang dengan mudahnya dapat di akses dengan kereta sekalipun. Melainkan di Balikpapan, sebuah kota yang berkembang di timur pulau kalimantan yang terkenal dengan kilang minyaknya. Dua tahun sekali aku dan mama berkunjung ke tanah kelahiranku, juga berkangen ria dengan sanak saudara disana. Semenjak kematian almarhum nenek. Aku merasakan ada sosok yang kurang disana. Suasana menjadi kurang hidup. Tak ada lagi yang memberiku nasihat serta wejangan darinya.
Kali ini aku pergi tak sendiri. Ada tiga orang sahabat baik yang menemaniku. Mereka adalah Ryan, Anisa, dan Wahyu. Kami berempat sudah menyelusuri kota Solo dan Jogja selama seminggu penuh dengan berbekal pakaian dan uang yang dikiranya cukup. Awalnya kami berniat berlibur untuk menghilangkan segala kepenatan seusai ujian semester, namun kami tak mengira akan mendapatkan pengalaman lebih yang dapat mengeratkan tali persaudaraan diantara kami berempat. Semuanya terekam dan tertanam dalam pikiran kami masing masing. Membuka mata kami berempat untuk lebih gemilang di semester depan.
Malam pun semakin gelap. Perlahan lahan kereta yang kutumpangi ini berjalan meninggalkan Stasiun Balapan. Pistonnya berderu deru pertanda kereta segera melaju. Aku pun bangkit dari bangku tempatku bersandar dan melambaikan salam perpisahan kepada beberapa sahabat lain yang berasal dari solo. Perasaan haru dan bahagia bercampur jadi satu. Serasa ingin mengulangi kembali hari yang telah terlewati bersama mereka. Tapi hal itu tak mungkin terjadi, karena kami berempat memang punya agenda masing masing setibanya di Bandung.
Sudah tiga puluh menit aku berada di kereta. Ketiga sahabatku sudah tertidur lelap rupanya. Rasa letih selama seminggu menahan punggung mereka selama perjalanan. Kini, rasa bosan mulai merasuki pikiranku. Kulihat arloji di lengan kiriku, tertera pukul 9.30 malam. Tiba tiba ponselku berdering. Mungkin ada salah satu temanku yang dari solo itu ingin memberi tahu bahwa ada barang bawaan dari kami yang tertinggal. Namun, tebakanku meleset. Display ponselku memperlihatkan nama yang berbeda. Tertera nama Yuliana disana. Ada apakah gerangan?
“Ya, halo.” jawabku
“Dhi, kenapa lu nanya nanya kabarku ke Rio sih? Ganggu tau!”
“Aku cuman pengen tau kabar kamu. Gak papa khan?”
“Hmm.. cuman itu kah?”
Aku pun terdiam, berharap punya alasan lain untuk dikatakan padanya. Pembicaraan pun ku alihkan.
“Yul, Kamu masih di Batam?” tanyaku antusias.
“Aku di medan sekarang. Mungkin kamu udah tau mungkin dari Rio tentang bejatnya aku. Sory ya, selama ini kusimpan semuanya. Gimana kabar? Sehat sehat aja khan?”
“Gak apa apa. Kuterima keadaanmu apa adanya kog. Alhamdulillah baek. Aku lagi perjalanan pulang ke Jogja, lagi di kereta. Oiya, kamu kog gak jadi asisten dokter di Bandung?”
“Ngga dhi. Aku udah nyaman disini. Sekarang aku aktif di yayasan sosial sekarang. Kadang, bantu bantu di gereja juga. Eh, gimana kuliah? IP nya bagus khan?”
“Soal IP sih lumayan. Semoga makin baik di semester depan dan seterusnya. By the way, kamu masih nyimpen novel A Painted House?”
“Aku juga gak tau novel itu masih ada di aku atau nggak.”
“Hah? Maksudnya? Aku belum baca novel itu sampai habis loh!”
Sebenarnya aku berbohong tentang ini. Novel itu adalah novel yang kami berdua beli semenjak dua tahun yang lalu. Aku hanya ingin mengetahui keadaan novel itu. Karena novel itu memorable untuk kami berdua.
“Err.. Sebenarnya udah aku sumbang ke Lembaga Penyuluhan di Batam. Maafin aku ya. Tapi kamu bisa beli di internet kog e-booknya.”
“oh.” Perasaanku agak kecewa setelah mendengar kabar ini.
“Aku juga mau nanya yul. Apa sebelum kita bertemu, kamu udah sering dugem dan drugs?”
“Iya,” jawabnya singkat.
“Aku gak mau kamu kecanduan sama seperti aku. Jangan coba drugs ya. Sekalipun jangan!”
Perasaanku semakin kacau. Marah, sedih, dan kecewa berkecamuk dalam dada.
“Aku cuma candu sama kamu, Yul! Aku bicara jujur! Mungkin semua orang gak tau kita sudah berhubungan dua tahun lebih!”
“Banyak orang nanyain aku Yul, kenapa selama ini aku single. Dalam hati aku bilang, aku sudah menjadi milik Yuliana. Biarkan saja semua orang berkata apa. Aku ingin kamu tau. Aku mau kita melanjutkan ke jenjang berikutnya Yul!
“Tapi kita sudah putus enam bulan yang lalu! Aku harap kamu lupain aku dan cari yang lain. Jika tidak, aku harus menghilang dari hidup kamu Dhi!”
Aku merenungi sejenak, dengan terbata bata mulutku berkata.
“Maaf yul.. Aku susah lupain yang lalu.”
Tiba tiba, telepon pun diputus. Ya, dia yang mengakhirinya.
Aku ingin berteriak, tapi tidak bisa. Aku ingin memecahkan kaca dalam gerbong, aku tak bisa. Aku hanya tak ingin membuat keributan. Terpaksa harus diam dan menutup telinga dengan headset yang memang kubawa sepanjang perjalanan.
Novel itu, Kubeli juga di Jogja
Perjalanan terasa berat, malam pun semakin pekat. Kereta melaju kencang agar tetap berada dalam lintasannya. Suasana dalam gerbong kereta makin sunyi. Kulihat arloji, sudah menunjukan 12.30 tengah malam. Kutengok juga ketiga sahabatku yang masih tertidur. Sepertinya mereka sedang berpetualang di alam mimpinya masing masing. Sedangkan diriku, masih terjaga dan duduk menghadap keluar jendela. Menikmati angin malam dan alunan lagu yang kudengar melalui headset.
Kini Ku ingat. Aku membawa novel itu di tas. Sebenarnya, aku membeli novel itu saat melewati sentra toko buku bekas di Jogja. Awalnya aku hanya iseng menanyakan, apakah ada toko yang benar benar menjual novel yang berjudul ‘A Painted House’ atau ‘Rumah bercat Putih’. Jawabannya adalah, ya. Bahkan kubeli dengan harga lima belas ribu perak! Seolah novel ini tak berharga. Tapi tidak menurutku, novel ini tak bernilai harganya.
Kuambil novel itu yang masih berada di dalam tas. Sengaja kuselipkan diantara baju baju. Kulihat dengan seksama, novel itu ternyata terbitan lama. Kertasnya pun sudah berubah menjadi kuning. Sekilas sampulnya hanya berlatar putih dan bergambar sebuah rumah tua. Namun aku tak peduli. Tanganku pun segera membuka per halamannya dan mencari lanjutannya akhir dari Bab. 5.
Tiga puluh menit sudah berlalu. Mataku sudah tak bisa bertahan rupanya. Alunan lagu orkestra yang lembut dan mengalun rasa kantuk, tiba saatnya membawaku pergi ke alam mimpi.
Perginya Kenangan
“Dhi, bangun! Dikit lagi sampai di Bandung!”
Kukenal suara itu. Suara Yuliana. Saat ini aku bergandengan tangan bersamanya, tapi mengapa dia memegang pipiku dan menyuruhku bangun?
“Woy! Bangun kampret! Mau lu, gue tinggalin?” katanya sambil menampar pelan.
Terbelalaklah kedua mataku. Ternyata aku sedang bermimpi, Ryan yang membangunkanku. Disampingku, Ryan sudah berkemas dan menatapku agak kesal. Dia ingatkan aku agar cepat bergegas dan lima menit lagi kami harus beranjak dari kereta ini. Laju kereta semakin melambat. Piston diantara roda kereta semakin berhenti bekerja. Kami berempat sudah berdiri dan melangkahkan kaki turun dari kereta.
Setelah membawa barang bawaan ke pinggir rel. Sambil berjalan ke depan stasiun, Wahyu dan Anisa kembali mengingatkanku. Mungkinkah ada barang yang tertinggal di stasiun. Jadi, kuperiksa kembali semua bawaan. Ada satu barang yang tertinggal, novel itu!
Peluit tanda kereta berjalan pun bersiul kencang. Roda dari kereta sudah mulai berputar perlahan lahan. Aku pinta mereka agar menjaga bawaanku. Mereka melihatku iba dan mencoba menghambat langkahku. Tapi aku segera berlari dan mencari letak gerbong ketiga. Kuharap bisa mendapatkannya kembali sebelum kereta melaju kencang.
“Novelnya.. novel Yuliana!” aku berteriak dan mencoba mendekati gerbong ketiga.
Tak ada seorangpun yang menanggapi teriakanku. Kereta pun semakin cepat dan lariku tak bisa terlampau jauh. Napasku sudah tak terkendali lagi. Rasa letih membebani semua ototku. Terpaksa aku berhenti mengejar. Sebisa mungkin harus merelakan novel itu, berserta kenanganku di dalamnya bersama Yuliana.
Djogjakarta - Solo, 1.7.11
***

bagus dis cerpennya !
BalasHapusbase on true story
di permak dikit
tp gw suka
ya, ampir tiap cerpen lo gw suka
yg satu ini gw baca pake back sound
makin dapet aja feelnya
oh ya
pesen buat lo
move on dis !
jangan mentok ya dis
masih banyak ikan di laut
:DDDD
Pake backsound? Boleh juga kayaknya.
BalasHapusiya, gak akan mentok mentok kok yud. santai aja :D