Kamis, 11 Agustus 2011

Puisi - BERMAIN API



Ia datang membawa pesona
Auranya juga meluluhkan jiwa
Juga sifat yang melambai manja
Aku bertemu dengannya
di ufuk senja.

Mungkin,
Aku tak mengerti kata hati.
Menerjemahkannya juga tak mampu.
Ia datang tiba tiba, terjun dalam kehidupanku.
Sampai dirinya jadi penyatu hati.
Namun,
Hati berbicara lain.


Ia menyatakan semua melalui sepucuk cinta.
Dulu aku masih muda,
Tak mengerti apa apa.
Nurani ingin mencoba, berbalut cinta.
Melalui dunia maya.

Ia mendatangi raga ini.
Aku mulai mengikuti arah bayangannya.
Dia berhenti, menatap, seolah olah menelanjangi.
Mencoba meraba hati dan menatap lebih tajam lagi.
Tak berkutik diri dibuatnya.
Kini kunikmati semua.
Rasa cinta merubah jadi birahi.

Ia lakukan itu ketiga kali.
Kecup kedua bibir, lidah pun menari.
Liur pun terasa manis, semanis cinta.
Tubuhnya laksana pualam,
sempurna tak meninggalkan cacat.
Mendesah ia kugagahi
Tetes peluh tak henti membanjiri.
Menjadi satu dalam gerakan dansa.
Kami berdansa di neraka.
Tenggelam dalam lautan surgawi.
Alirkan smua rahasia,
Leburkan dalam suasana.


Laksana mawar berduri,
Indah, merah, dan merona namun tajam.
Tajamnya duri seperti belati.
Setajam belati Ia merobek hati.


Usai dinikmati, kini tak lagi terpakai.
Aku masih disini, meratapi yang telah terjadi.
Tak meninggalkan seuntai kata,
Ia pergi melarikan diri, mungkin ke ujung dunia.
Mencari cinta lagi, merampasnya, dan meninggalkannya sia sia.


Inikah yang orang orang sebut?
Cinta itu suci, cinta itu murni?
Ini hanya sebuah permainan.
Lakukan jika kau merasa bosan, tinggalkan saat kau terlanjur senang.


Inginku menyalahkan diri sendiri,
dengan apa yang terjadi.
Berkata pada bayangan, ia diam.
Dalam sunyi, jemari menyilet nadi,
Di temaram pojok suatu kamar.
Tangis mengalir tiada henti.
Menahan semua pedih yang mencabik hati.



Sebuah catatan akhir Juli. I hope you will read this.

4 komentar: