Selasa, 07 Desember 2010

Cerpen - INSOMNIA

Tak bisa terpejam
CERPEN Yudistira

“Tik tok, tik tok, tik tok..”

Bunyi itu mengalun berulang ulang, bertubi tubi tanpa henti, jarum pendeknya tertuju ke angka 2, jarum panjangnya entah ada dimana. Suara itu bergema tiap malam, dari benda bernama jam. Namun jam itu bukan sembarang jam. Benda yang tertempel di dinding itu adalah pemberian dari seseorang yang cukup berpengaruh baginya, Ibu. Tanpanya, ia tak bisa berbaring sepi di kamar ini. Kamarnya terlihat sumpek nan apek. Dindingnya bercat lapuk , bergantung lampu bohlam 12 watt, perabot perabot lama yang entah berapa total harganya.

Matanya masih tertuju pada langit langit sempit, matanya belum menunjukan “5 watt”. Pandangannya melirik ke segala arah. Ternyata belum ngantuk juga. Ia pun berpikir. Dirinya mungkin berada di ruang itu, tapi pikirannya terbang melayang jauh kemana, ke tempat antah berantah.


Terkadang pernah terpikir olehnya, “Kapan aku mati?”

“ Bagaiman keadaan saat aku dicabut nyawa nanti? Ditinggal sepi, atau berkumpul berbondong bondong wanita dengan wajah yang kukenal sedang menangisiku?”


Mungkin. Terlalu seram mengungkit ungkit misteri illahi yang saat ini masih misteri. Lebih baik memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup untuk hari esok. Sangking seriusnya, ia pun sampai tak bisa tidur beberapa jam kedepan untuk malam itu.

Lalu, Ia pun bangkit dari kasurnya dan mulai membuka laptop.

Matanya pun sayu, karena sering insomnia tiap malam. Berkenalan dengan buku buku tebal milik asisten dosen, laptop pemberian instansi, atau game bodoh yang tak pernah tamat tamat juga. Ironi. Tapi masih saja ada lawan jenis yang iseng iseng “mencolek”nya di situs jejaring sosial. Bahkan, yang sesama gendernya pun ada yang mencolek tak jelas. Ia pun tak menggubris semua hal sesepele itu, hanya tertawa ringan dan bernapas agak dalam dan melanjutkan kesibukannya.

*********

“Klak klik klak klik”


Bunyi jemari tangan saat memijit keyboard laptop. Lama ia melakukannya. Entah nantinya akan menjadi penulis, blogger, atau pun seorang editor.

Cuma tuhan yang tau.

Tiba tiba sesuatu yang tak dihentikan itu datang. Mousenya macet. Sepele, Cuma bagaimana caranya ia bisa nge”save” ketikannya yang hampir berjumlah 30 halaman itu.

Berbagai macam cara ia lakukan. Colok cabut, colok cabut usbnya tetap saja gak ngefek. Ia pun geram liat tingkah laku laptopnya yang sudah mulai capek “diutak atik”

“leptop sialan! Masih mending gue dapetin lu secara gratis, satu satunya pula. Kalo gua punya segudang barang ginian, udah gue tebas ampe gak jelas”

Mengeluh pun juga gak ada artinya. Itu barang bukan manusia, yang punya pikiran sendiri dan bergerak sesuai dengan keinginan hati.

Karena panik, satu langkah terakhir ia lakukan. Yaitu mencabut nyawa leptop sialnya dengan satu sentuhan.

“Haha! Restart lalu matilah kau.”

Mata sayu nya berubah tajam, bengis. Napsu membunuh benda mati itu pun tampak jelas. Jari telunjuknya pun tegak. Mirip dengan kemaluannya yang sering bangun disaat yang tak pasti.

*blank! *

Seringai itu pun nyengir. Singkat, mulutnya menutup. dalam sesaat, Muka kejam itu pun mendadak bingung.

Hei! Lalu bagaimana dengan tugas dari dosenmu ?! minimal 30 halaman lho?!


“Bodo amat! Inspirsi nulis gak cuma saat ini aja kog. Besok besok Malaikat Jibril juga bakal ngasih ‘wahyu’ nya ke gue. Haha! ”

Ia tertawa sendiri, bingung sendiri. Sedih sendiri. Masa kuliah itu memang berat bung! Kalau tidak bisa bertahan hidup, sama saja layaknya menjadi pecundang. Seperti seekor kerbau yang diincar 30 ekor singa pemburu. Mau berlari sekuat mungkin, jika tuhan tak mengijinkan lagi hidup. Yasudah, tamatlah kau. Menjadi mangsa para pencerca dan penjilat disana. Terinjak dan tak pernah bangkit.

Menutup leptop dan kembali ke kasur. Menghela napas panjang dan berpikir hal ini seharusnya tak terjadi padanya..


Insomnia.. Oh, Insomnia..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar