Sabtu, 11 Desember 2010

TERIMA KASIH, BUNDA

Kasih Ibu


Terbangun dari khayal angan mimpi,
Alunan weker menamparku pagi pagi.
Pagi ini, sendiri melanda hati.
Belum terpikir yang akan kulakukan disaat nanti.



Ku bergegas menarik daun pintu,
Dan menghirup aroma embun pagi.
Mentari pun mencoba menyapa diri,
Mulai kusambut dengan senyum manis.
Berkata dalam hati,
Terima kasih Ya Allah,
Aku diberi nafas hidup untuk hari ini.
Terima Kasih..



Mentari pun mulai menari pagi.
Kulihat bayangan diri,
Bayangan itu, terbelah jadi dua.
Siluet pertama adalah diriku, dan satunya lagi milik siapa?
Dan siluet kedua mulai menampakan diri.
Menjadi sesosok bayangan malaikat yang hangat dan penuh kasih.
Dialah yang biasa ku panggil,
Ibunda..




Teringat tentangnya.
Dia ajarkan aku bahagia.
Selimutiku dikala sedih,
Tak peduli apapun keadaannya.



Bunda,
kau selalu menjadi sahabat setiaku di kala sendiri.
Namun, sekarang.
Kau tak selamanya disisiku lagi.
Siapa yang harus disalahkan?
Apa aku banyak salah kepadamu?
Terlalu banyakkah pertanyaanku?
Seiring luka dan dosa yang sering kuperlihatkan padamu hingga kau menangis, Bunda?


12/12/2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar