RIAK ombak mendayu dayu di siang hari nan sendu. Seorang remaja pun berenang menjauh dari tengah kolam ke pinggiran. Rintik gerimis mulai berjatuhan tetes demi tetes. Gemericik air yang jatuh seperti tengah menari nari bertemu dengan beningnya air di kolam renang.
Ya, hari yang mendung pun menjadi gerimis. Mentari ikut tak bergairah, mungkin ia sedang bersedih. Sama seperti remaja itu , yang masih mencari jati diri.
Dia hanya duduk termangu diiringi hela napas sambil melihat pengunjung yang bertambah ramai di area Waterpark ini. Dengan bermodal keberanian dan beberapa helai uang, ia pun memberanikan diri bermain ke sini. Hanya sendiri.
Mungkin seharusnya tak sendiri ke tempat ini. Tapi apa daya. Ia tak punya kawan, apalagi sahabat. Sungguh ironis.
Apa kabarnya dengan keadaan teman seperjuangannya?
Mungkin mereka hanya sibuk dengan urusannya sendiri. Entah sedang bercinta dengan pacar masing masing atau mungkin asyik bermain game, mungkin juga mereka sedang menyicil tugas dari dosen.
Masa bodoh dengan keadaan mereka. Mereka juga tak memberikan sedikit perhatian atau belas kasihan padanya. Mungkin ia hanyalah seongok sampah bagi mereka, yang tak bernilai harganya dan patut untuk dibuang ke tempat yang pantas.
Tiba tiba, ada seorang pemuda yang menepuk kencang bahunya.
Tersentak dia kaget. Di tempat seperti ini, ternyata ada juga yang mengenalinya. Dia tahu siapa pemuda itu. Sebisa mungkin membuang muka dan tidak mau menanggapinya sama sekali. Awalnya, bertujuan ke tempat ini hanya ingin sendiri. Ya, sendiri. Berharap tak ada seseorang pun yang mengenali.
"Hei dhika! Sama kakak sendiri kog sombong banget! Mana kabur dari rumah! Mama khawatir tuh tiba tiba yang biasanya sendiri di kamar, tiba tiba udah gak ada! Ayo, cepet pulang!" celoteh bawel dari mulut kakaknya.
"BERISIK! Lu gak usah sok peduli! Ngurus diri sendiri aja belum becus! Sekolah aja masih di SLB! Bahkan IQ lu kelewat jauh dari gue."
Rangga hanya tersenyum memaklumi dan mulai menarik salah satu tangan Dhika.
Jujur, Dhika tak mau liat wajahnya. Kenapa? Wajah Rangga masih polos dan seperti anak kecil. Dari raut wajahnya menunjukan bahwa ia memiliki lebih kebahagiaan dibandingkan Dhika. Ya, hal ini yang paling Dhika benci.
Mungkin semua orang tak tahu mengenai hal ini. Keluarganya beranggotakan empat orang, yaitu Papa, Mama, Rangga, dan Dhika. Mungkin kelihatannya seperti keluarga harmonis pada umumnya. Tapi, keluarga itu berbeda.
Papa dan mama dikaruniai satu orang yang cacat mental. Lebih tepatnya autis. Rangga harus bersekolah di SLB. Dikarenakan keterbatasannya, ia harus belajar bagaimana caranya menyampaikan apa yang ia inginkan pada orang lain, juga sebaliknya. Terpaksa, ia harus 10 tahun bersekolah di sana sampai ia benar benar normal seperti remaja kebanyakan.
Tak disangka, mereka berdua memiliki penampilan fisik yang berbeda. Tubuh Dhika terbilang kurus, kulit sawo matang, dan wajah yang pas pasan. Dibandingkan dengannya, Rangga punya fisik yang orang kebanyakan inginkan. Tubuhnya tinggi dan proporsional, ditambah dengan wajah yang tampan. Mungkin dia lebih cocok jadi model iklan daripada bersekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa, khusus untuk penyandang cacat). Tentunya kedua orang tua Dhika lebih memperhatikan Rangga dibandingkan dia. Dhika merasa iri dengan segala fasilitas yang diberikan orangtuanya pada Rangga, sampai ia sendiri tak dapat.
Rangga pun mulai menarik tangan Dhika dengan kencang. Hampir saja Dhika terjatuh dari bangku santai di pinggir kolam itu.
Sekilas, pandangan mereka tertuju pada orang orang di sekelilingnya yang melihat mereka berdua dengan heran. Toh, ada dua orang lelaki remaja yang tarik tarikan tangan mengajak untuk pulang. Sungguh kekanak – kanakan.
Gerimis pun usai. Mungkin karena kedatangan Rangga, mentari mulai bersemangat menyinari lagi. Walaupun hari sudah cerah, perasaan dalam hati Dhika pun masih berkecamuk. Terpaksa ia harus menenangkan diri bagaimana pun caranya, sebelum ke rumah itu lagi.
Ya, mungkin karena ia bosan disana, juga muak menelan konflik bathin yang ada di dalamnya.
Akhirnya Dhika pun menolak untuk pulang dan melepas tangan Rangga dengan paksa.
Dhika pun kembali meluncur ke kolam sedalam 2 meter.
Byuuurr!
Suara riak air di kolam yang bergesekan antar beban tubuhnya.
Dengan gaya renang sebisanya, Dhika mulai menyusuri kedalaman kolam ini.
Perasaan tenang itu akan muncul jika ia menyelam semakin dalam, dan dalam.
Hawa sejuk air membalut tubuhnya. Berat tubuhnya terasa ringan, seperti melayang di udara. Kedua tangannya mengayuh tubuhnya agar bisa bergerak dengan leluasa. Menyelam, menyelam, dan menyelam semakin dalam.
Namun sesuatu yang aneh terjadi, kakinya terasa berat dan semakin berat. Mendadak ia kehilangan napas. Tangan dan kakinya terasa keram. Air dari kolam renang bertubi tubi mengisi paru parunya. Setelah ia sadari, ia tenggelam.
Dhika panik dan berusaha menutup kedua matanya, muncul cahaya yang terang datang dari kedua sisi.
Lalu, inikah akhir kisah hidupnya? Masihkah ia diberi kesempatan untuk hidup dan merubah semua keadaan?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar