![]() |
| Kalkulus itu Rumit, sama seperti pikiranku |
CERPEN Yudistira
AIR mataku jatuh. Namun hanya satu butir. Bak mutiara yang encer dan bening. Tak seharusnya seseorang lelaki meneteskan air matanya di ruang seperti ini. Aku pun mengusap mataku dengan lengan bajuku. Berharap flashback sesudahnya tak akan muncul kembali. Maki pun memandangku aneh. Seakan ia baru liat alien yang mendadak jatuh dan membuat crop circle dalam 1 detik.
Ia masih memandangku aneh. Menurutnya, Dhika yang biasanya tak seperti ini. Aku selalu dikenalnya ramah dan sedikit sok imut. Mungkin.
"Eh, gile lo. Gue mah bakalan nangis kalo diputusin sama cewek gue doang. Hahaha." aku berusaha menenangkan diri, dengan nada bicaraku yang agak kesal.
"Yo wis tho. Ojo nesu nesu," celoteh Maki bahasa jawanya, sambil tersenyum lagi.
Seketika aku pun menoleh pada papan whiteboard yang dipenuhi hitung hitungan kalkulus. Seakan akan ia berbicara.
"Gambarkan grafik fungsi dibawah ini!"
Wow, aku baru tanggap. Ini sudah masuk ke bab vektor, padahal kemarin masih berkutat dengan "Persamaan diferensial non homogen" dan "metode variasi parameter".
Tambah mumet kepalaku. Biasanya disaat seperti ini aku mulai menenggak air putih yang ditelan bersama aspirin. Dengan harapan pening ini lenyap dalam hitungan detik.
"Tik tok, tik tok.."
Jam di kelas kalkulus pun masih terdengar sapaannya. Dia pun menunjukan bahwa sekarang baru pukul 14.00, masih 1 jam lagi kalkulus akan selesai. Aku pun melirik ke arah Maki.
Dengan tenang ia mengangkat tangan kanannya dan berbicara pada dosen. Ya, ia termasuk mahasiswa yang cerdas. Bahkan IP-nya pun cumlaude. Beda denganku yang masih berputar putar dengan mindset "Mengejar IP dulu, ilmu no. 2".
Tiba tiba, Flashback lain pun muncul. muncul cahaya terang di kedua sisi.
“Hei! ini khan di rumah? kenapa harus ada disini?”
Ya, kenangan buruk pun muncul.
Kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Ayah membentakku dengan keras, Ibu pun tak mau kalah. Mereka pun tak hiraukan apa kata tetangga. Walaupun, hanya aku yang harus menanggung semua malu. Mereka bilang, aku adalah anak tak tahu diuntung. Mereka juga bilang, aku anak yang tidak bisa dibanggakan. Aku pun berharap, lusinan piala lomba melukisku menenangkan hati mereka. Tapi apa dikata.
Mereka Murka! Seperti anjing yang menyalak di kala bertemu maling tengah malam.
Aku pun menutup kedua telinga. Bathinku tak kuat menahan segala tekanan. Disaat aku masih berusia 18 tahun dan aku berharap bisa menaikan haji untuk mereka, serta membelikan rumah & mobil mewah. Tapi apa? Semua hanya angan. Aku yang masih bersekolah sudah berkeinginan mencari duit yang halal. Cuma untuk satu tujuan, membahagiakan orang tua.
Aku pun kabur dari rumah. Dengan sigapnya memakai sepatu lariku dan mulai meninggalkan rumah.
Ya, aku benci teriakan.
Sambil menahan tangis, aku berlari.
Lari, Lari ,dan lari.
Lari sekencang kencangnya.
Sambil menahan tangis, aku berlari.
Lari, Lari ,dan lari.
Lari sekencang kencangnya.
Berpeluh keringat membasahi kaosku. Tak kusangka, aku telah menempuh jarak yang cukup jauh dari rumah. Pikiran ku masih mengingat apa kata mereka. Kesedihan pun melanda. Aku harus kembali ke rumah rupanya.
Aku masih ingat juga disaat pembagian trophi, orang tuaku tak kunjung datang. Mungkin mereka hanya menganggapku anak yang dibuang.
Masih ingat kenangan di saat SMP, kulihat ada orang tua yang bangga memeluk anaknya dan mengangkat piala lomba itu tinggi tinggi. Padahal cuma dapat "harapan dua". Nah, aku yang dapat juara 2. Harus pulang menenteng piala ini sendirian ke rumah. Berharap setidaknya Ibu pun tersenyum bahagia. Tapi apa dikata, dia menegurku agar harus merebut juara satu.
Tak ada kata pujian darinya. Aku hanya menunduk mengiyakan. Berharap jadi bagian keluarga lain. Berada dalam keluarga yang bisa mensyukuri apa yang diberikan anaknya pada orang tua. Ya, aku berharap demikian.
Lamunanku pecah, air mataku mengalir deras. Masih di ruang kalkulus.
Maki pun tambah bingung.
"Dhi! Kog nangis?"
Aku mengusap kedua mataku dengan sigap. Tak akan kubiarkan mereka tahu tentang keadaanku yang seperti ini.
"Gue lagi galau ki." aku pun bicara dengan nada rendah.
"Ya, ga ampe nangis gitu lah! Besok gue juga ada matdis! Kuis pula! Toh gue aja gak nyampe segalau lu kog," timpal Maki.
Aku pun mengiyakan omongan Maki sambil menunduk.
Heran! Kenapa masalahku semakin kompleks?!
Sampai harus muncul flashback di saat yang tak tentu seperti ini?
Apa ini sebuah pertanda?
Atau hanya mimpi semata?
Aku ingin segera keluar dari kelas kalkulus ini dan beristirahat sejenak. Tapi tidak bisa, jam kalkulus masih belum selesai. Kuharap memori menyedihkanku yang lain tidak akan muncul kembali setelah detik ini berakhir..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar