![]() |
| Biarkanlah dia meledak. Aku ingin merasakan Mati dengannya. |
CERPEN Yudistira
PELUIT tanda kereta berjalan pun bersiul kencang. Roda dari kereta sudah mulai berputar perlahan lahan. Aku pinta mereka agar menjaga bawaanku. Mereka melihatku iba dan mencoba menghambat langkahku. Tapi aku segera berlari dan mencari letak gerbong ketiga. Kuharap bisa mendapatkannya kembali sebelum kereta melaju kencang.
“Novelnya.. novel Yulia!” aku berteriak sekencang - kencangnya dan berlari mendekati gerbong ketiga.
Tak ada seorangpun yang menanggapi teriakanku. Kereta pun semakin cepat dan lariku tak bisa terlampau jauh. Napasku sudah tak terkendali lagi. Rasa letih membebani semua ototku. Terpaksa aku berhenti mengejar. Sebisa mungkin harus merelakan novel itu, berserta kenanganku di dalamnya bersama Yulia.
“Argh! Sial! “ ucapku dengan penuh nada kesal sambil menendang tong sampah yang berada didekatku. Isinya pun tumpah dan berceceran kemana - mana.
Percuma aku menumpahkan kekesalanku saat ini. Semua orang disekeliling peron ini melihatku dengan pandangan aneh. Bahkan aku juga melihat ada seorang wanita muda yang berbicara mendatangi satpam disana sambil menunjuk ke arahku. Sambil mengatur napas karena lelah berlari, kupandangi juga kereta itu. Semakin menjauhi diriku dan perlahan lenyap dari pandanganku.
Tiba – tiba seseorang menepuk bahuku dari belakang. Dalam letih, aku membayangkan bahwa tepat di belakangku ada dua orang satpam yang akan membawaku ke pos setempat karena telah bertindak kasar di tempat umum. Ya, sebagai lelaki aku harus menjalani konsekuensinya. Namun tebakanku salah. Ternyata itu sahabatku, Wahyu. Dia menyentuh bahuku dengan tangan kanannya dan tersenyum hangat padaku. Dia mendatangiku bersama Anisa dan Ryan sambil membawa koper dan bawaan.
“Relakan dia, sob. Semua sudah ada yang mengatur,” ucap Wahyu.
“Bukan novelnya, tapi..”
“Tapi apa dhi? Jujur dong sama kita - kita. Toh kita disini udah menganggap lu sebagai sahabat. Kita udah jalani semua dari awal bertemu sampai sekarang.” sanggah Ryan.
Aku mulai menatap wajah mereka bertiga dengan seksama. Wajah yang selalu memancarkan aura keceriaan disaat aku mengalami susah maupun senang. Aku baru tersadar. Kehilangan seorang kekasih bukanlah akhir dunia, yang berarti kehilangan semua yang sudah digenggam di tangan. Aku masih punya mereka, sahabat disekelilingku. Dalam hitungan detik, semua gundah gulana dan segala kesedihan yang membebaniku hilang, bak pasir yang tertiup angin jika melihat aura keceriaan yang terpancar dari wajah mereka.
Kini aku mulai menceritakan semua tentang Yulia. Aku ceritakan semua sedetailnya, sambil berjalan bersama ke pintu gerbang stasiun kereta. Akhirnya mereka tahu rahasiaku. Tak ada salahnya membeberkan semua rahasia yang terpendam selama dua tahun lebih.
***
Gadis itu bernama Yulia
“Perkenalkan, namaku Yuliana Christianti. Kamu bisa panggil aku Yulia kok,” ucapnya sambil tersenyum manis.
“Ak.. aku.. Adhi. Ngg.. kamu tinggal disini?” jawabku agak terbata - bata.
Perbicaraan pun berlanjut. Semakin lama, aku merasa nyaman bila mengobrol dengannya. Aku menyukai gadis ini. Benar benar menyukainya. Dia cantik dan kepribadiannya pun menarik. Terkadang aku merasa seperti bermimpi atau sedang menonton film romantis dikala berjalan bersama dengannya. Sepertinya kejadian ini mustahil terjadi, namun aku mengalaminya sendiri. Ya, mungkin aku bukan tipikal lelaki tampan dan berbadan atletis, tapi jatuh cinta dan memilikinya bukan suatu hal yang mustahil. Maka, kubiarkan sang waktu menunjukan saatnya.
***
“Happy birthday, Dhi! Met sweet sixteen ya!”
Aku terkaget. Saat ku masuki rumahnya, atmosfirnya tampak berbeda. Kini lebih ceria. Balon dan pita warna warni tertempel di langit - langit, sekotak kado cantik yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya, serta kue Birthday cake dengan angka 16 diatasnya, dan Yulia, kini semakin cantik dengan gaun yang kubeli untuknya sebulan yang lalu. Rambutnya juga terlihat berbeda, menambah kesan anggun dalam dirinya. Aku semakin menyukainya. Aku cinta dia.
“Makasih ya, ayang. A.. Aku bener bener gak nyangka kamu dah nyiapin ini semuanya.”
Sudah satu tahun sudah dia tinggal sendiri. Orangtuanya meninggal dalam kecelakaan penerbangan satu tahun yang lalu. Ia hanya bisa bergantung pada neneknya yang kehidupannya berada. Terpaksa ia harus menjalani segala kehidupannya sendiri. Dengan keadaan yang seperti itu, ia harus menempa menjadi pribadi yang mandiri. Tapi di dalam kesendiriannya, ia butuh seseorang. Seseorang yang selalu menerangi kegelapan saat dia temaram. Itulah aku, semoga.
“Ini kadonya, yang. Dibuka yah!”
“Oke, makasih yang. Hmm.. apa ya isinya kira kira?” tanyaku sambil menyobek kertas kado yang menghiasi kado itu.
Tapi tak kusangka. Saat kubuka kotak itu, terdengar ada suara seperti tik tok pada jam digital. Terlilit beberapa utas kabel sebagai pemicunya. Ya, ini adalah bom waktu. Tertera hanya 5 detik yang tersisa!
“Hah? Ini apa , yang?!! Bom?!!”
“Goodbye yang. Semoga kita bersama di alam sana, selamanya..” jawabnya sambil memegang erat kedua tanganku. Ia ingin kami mati berdua. Waktunya hanya menunjukan 2 detik lagi tersisa. Sisanya..
“DUAAARR!!!”
Ledakannya maha dahsyat. Memporak - porandakan yang ada disekitarnya. Termasuk aku dan dia, Yulia. Segalanya mejadi gelap. Bahkan aku tak bisa melihat kedua tanganku sendiri. Inikah yang namanya cinta mati? Setelah bercinta, lalu mati dengan cara yang sia – sia?
***
“YUULIIIAAA!!” aku mencoba berteriak sekencang kencangnya.
“Woi! Gak usah teriak gitu juga kalii!!” ucap Ryan dengan santai. Ia berada tepat disamping. Menatapku seperti menemukan alien yang jatuh dari langit.
“Yulia mana?! Yulia mana, yan?! Bomnya meledak!! Gue dimana?!”
“Sst..! Ngomongnya biasa aja kali! Kedengeran tuh ampe kosan sebelah. Disini gak ada bom. Yang ada cuman jam weker gue yang udah ngebangunin tidur panjang lu selama dua hari, Puas lu?!”
Aku menghela napas sekuatnya. Tubuhku dibasahi oleh peluh keringat. Bajuku pun turut basah pula. Untunglah semua hanya mimpi. Semenjak kepulanganku dari Kota Jogja. Aku berharap bisa melupakan bayangan Yulia sedikit demi sedikit. Dengan pertolongan ketiga sahabatku, aku berharap bisa menyembuhkan semua rasa bersalah dan patah hati karenanya. Kuingin duniaku kembali tenang tanpa dirinya. Melupakan bayangannya. Melupakan Yuliana..
***

Lah..kok adhi mash idup?? To be continue ea ?Lah..kok adhi mash idup?? To be continue ea ?
BalasHapusLoh adhi kok mash idup?
BalasHapuswaaah hanya mimpi ternyata, seru, selamat ya kamu berhasil membawa aq untuk membaca cerita ini sampai habis .heamu berhasil membawa aq untuk membaca cerita ini sampai habis .he
BalasHapushhahahaha,,
BalasHapuscuma mimpi to
haha :D
@All,
BalasHapusYup. Adhi masih hidup kog. Yang iya rasa adalah memori yang sering terulang dan terekam kembali dalam mimpi.
Toh, hampir semua orang pasti pernah merasakan mimpi buruk khan? Demikian halnya si Adhi ini.
Semoga ia bisa melupakan mantannya dengan baik.
Semoga..