![]() |
| Kalkulus dan Skrizofenia |
CERPEN Yudistira
DENTING jam menunjukan tepat pukul 13.30. Mataku masih berkutat pada dua whiteboard kembar. Si dosen pun masih asik menulis sambil berbicara tentang apa yang di ajarkan. Tak hentinya coretan demi coretan menghampar di kertas binder, dan akhirnya kertasku pun habis juga.
"Ki, minta kertas dong."
"Nih. Besok gantiin ya." ujar Maki sambil tersenyum ramah.
Aku pun menyambar kertas itu dengan sigap dan melanjutkan hitungan kalkulusnya. Dalam hati ini bertanya- tanya. Apakah hari ini mendung? Ya, hari ini cuaca mendung. Firasat tak enak pun terus menghampiri. Semoga penyakitku tak kambuh setelah ini. Pilek? Wah, bukan hal yang besar sih.
Ah, persetan. Masa Bodoh. Aku pun tetap pasang gaya sok cool dan menampilkan wajah innocent. Walaupun begitu, dengan tampang dan gaya seperti ini pun, cuma sedikit wanita yang mau memilihku sebagai pasangannya. Ya, setidaknya ada yang sampai 3 tahun. Lalu putus entah kemana. Memang, tak ada habisnya bicara soal cinta. Setidaknya cintaku yang lalu hanyalah cinta monyet.
"Hei! Kenapa namanya cinta monyet? Darimana asalnya?" aku bertanya dalam hati.
Tak kuduga, seseorang menjawab dalam lamunanku.
"Lu khan mirip monyet. Ya cocok lah. Hahahaha!" seorang murid SMA menertawakanku garing.
"Hah! Jayus lu! Mati aja ke laut." aku pun menjawab.
Hei! barusan aku ngomong sama siapa?!
Aku melamun. Kertasku berantakan. Jam kalkulus masih berlanjut.
Tapi pikiranku entah kemana. Sial.
Tapi barusan? Sebuah Flashback?!
Ya, selintas kenangan memori masa SMA. Aku melihat sobatku memakai baju putih abu abu.
Ya, masih dengan ketawanya yang khas, dan sedikit berjerawat.
"FOKUS!!! Minggu depan UTS!!!"
Aku pun tak hentinya menyemangati diri sendiri.
Rintik hujan pun turun. Semakin deras dan makin deras. Mentari enggan menyapa. Dia bersembunyi di balik awan. Mungkin ia juga butuh istirahat karena telah bekerja keras menyinari bumi. Tenang berbaring di atas bantalan awan - awan. Satu jam pun cukup untuk hujan di hari ini.
Catat, catat, dan catat.
Tak bosan - bosannya mata melirik catatan dan papan whiteboard.
Catatanku mulai penuh. Mungkin aku akan membacanya di rumah untuk persiapan kuis selanjutnya. Selagi mataku tertuju pada catatan, pulpenku pun terjatuh.
Aku pun mengambilnya.Dan kali coba tebak, flashback pun muncul!
Suasana pun berubah. Aku berdiri di depan 40 orang anak, dan aku ditertawakan.
Bayangkan. Semua tertawa bukan karena lelucon. Tapi menghina, hina, dan hina! Aku ingat, hari itu rabu di saat kelas 2 SMA. Aku pun menamainya " Rabu Hina". Lalu, seorang perempuan pun menghinaku. Namanya Rina. Dia terkenal dengan omongannya yang selalu pedas.
Dia berkata, "Heh, camen! Lu pantes masuk TK lagi. Ngomong aja belom becus!"
Bayangkan. Semua tertawa bukan karena lelucon. Tapi menghina, hina, dan hina! Aku ingat, hari itu rabu di saat kelas 2 SMA. Aku pun menamainya " Rabu Hina". Lalu, seorang perempuan pun menghinaku. Namanya Rina. Dia terkenal dengan omongannya yang selalu pedas.
Dia berkata, "Heh, camen! Lu pantes masuk TK lagi. Ngomong aja belom becus!"
Ya, dia berbicara dengan aksen orang jakarta betawi. Dan terlihat gaya bicaranya seperti orang kota yang ababil kebanyakan. Tak kenal sopan santun, asal bunyi, dan angkuh. Aku pun tak berkutik di depan kelas. Tak ada yang membantu ku ketika perasaan gugup menyerangku brutal.
Aku pun dikenal pendiam. Daripada harus berbicara adu bacot dengan manusia sekelas mereka yang hanya menganggap orang lain "sampah". Ya, Sampah!
Aku pun terbangun, tak kusangka air mataku jatuh. Masih di tempat yang sama, di kelas kalkulus.

ayoo buat lagi cerpen versi ALIN, hhee
BalasHapusOke gan, tunggu postingan terbaru dari saya ya!
BalasHapusMakasih udah mampir.